Meski usianya sudah 56 tahun, Kasipah, warga Desa Tobo, Kecamatan Meraurak, Kabupaten Tuban ternyata masih membuat lelaki tertarik. Terbukti, janda tua beranak satu tersebut menjadi korban pemerkosaan Rosiman, 40, tetangganya sendiri.
Saat itu, korban sedang menggembala sapi di ladang. Tiba-tiba, Rosiman datang dan mengajaknya mengobrol. Beberapa saat kemudian, Rosiman ternyata tak kuat menahan nafsunya melihat kemolekan Mbah Kasipah, hingga duda satu anak itu memberanikan diri untuk mengajak Kasipah bercinta.
Namun Kasipah menepisnya. Karena ajakanya ditolak, Rosiman naik pitam. Dengan kekuatannya, ia membekap Kasipah dan mencumbuinya. Namun belum sampai Rosiman menyalurkan nasfunya, mendadak ada orang melintas. “Rosiman kaget, sehingga Kasipah berhasil keluar dari bekapannya,” kata Gopar, salah satu warga setempat.
Selanjutnya, korban pulang dan menceritakan peristiwa ini kepada keluarganya. Tanpa pikir panjang, Kasipah diajak keluarganya mendatangi Polsek Meraurak untuk melaporkan kejadian ini. Beberapa saat menjalani pemeriksaan, kasus tersebut kemudian dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Tuban.
Kepada penyidik, korban menceritakan kronologi peristiwa pemerkosaan yang telah menimpanya. Menindaklanjuti laporan itu, sejumlah petugas langsung diterjunkan untuk melakukan penangkapan terhadap Rosiman. “Korban masih dalam pemeriksaan. Pelakunya juga telah kami amankan,” kata Kasat Reskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso.
Akibat perbuatanya, Rosiman dijerat dengan pasal percobaan pemerkosaan dan pasal pencabulan. “Pelaku sudah sempat mempermainkan kemaluan korban menggunakan jarinya. Tapi untungnya belum sampai dilakukan pemerkosaan, karena ada warga yang melintas,” terang Budi Santoso.
Tersangka Rosiman di kantor polisi hanya bisa terus menunduk malu selama menjalani pemeriksaan. Beberapa pertanyaan penyidik dijawabnya satu persatu dengan lugas. Ia mengaku, selama ini sudah menaruh rasa cinta terhadap korban. “Ya Pak, saya khilaf. Saya memang benar-benar suka terhadap dia,” jawab Rosiman.
Cinta yang dirasakanya itu sudah beberapa kali diungkapkan. Namun, korban tak kunjung membalas. Hingga di tengah ladang itu, ia tak mampu lagi menahan nafsu birahinya. “Setelah beberapa saat berbincang-bincang saya tiba-tiba pingin melakukan hubungan dengannya,” sambung tersangka sesaat sebelum dijebloskan ke dalam sel tahanan.
Kini Rosiman harus mendekam di dalam sel tahanan Polres Tuban sambil menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia juga terancam hukuman penjara 10 tahun.
Sumber : http://www.surya.co.id/2010/07/31/nenek-56-tahun-diperkosa.html
Nenek 56 Tahun Diperkosa
Selasa, 19 Oktober 2010 Diposting oleh admin di 15.38 | Label: Berita Terbaru
Dua guru SD Katolik Kelewae, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT, selingkuh. Akibatnya, pemilik tanah menyegel sekolah dimaksud.
Penyegelan sejak seminggu terakhir ini membuat para murid SDK Kelewae dirugikan karena aktivitas belajar-mengajar terhenti. Para murid kemudian melaporkan nasib mereka kepada DPRD Nagekeo di Mbay, Jumat (30/7/2010).
Pengaduan para murid SD kepada Dewan -- peristiwa pertama di Nagekeo itu terjadi menyusul aksi penyegelan SDK Kelewae oleh pemilik tanah sejak Senin (26/7/2010). Sejak saat itu kegiatan belajar-mengajar (KBM) berhenti sama sekali.
Para murid SD kelas 4, 5, dan 6 datang bersama 49 orang tua mereka dan pengurus komite. Mereka meminta Dewan membantu menyelesaikan persoalan itu.
Kepala SDK Kelewae, Margareta To mengatakan, pemilik tanah menyegel pintu sekolah, baik SDK Kelewae maupun Taman Kanak-kanak (TK) Budi Luhur Kelewae.
"Sejak hari Senin lalu kami tidak bisa sekolah karena semua pintu disegel termasuk TK. Kami mau minta bantuan Dewan untuk selesaikan ini. Kasihan anak-anak tidak bisa sekolah," tutur Margareta.
Hal senada disampaikan Ketua Komite Sekolah, Fridus Mere. "Anak-anak sudah lima hari tidak sekolah. Pemilik tanah mau membuka segelan asalkan dua orang guru di sekolah tersebut harus dipindahkan. Karena adanya dugaan perselingkuhan yang melibatkan guru tersebut," kata Fridus.
Fridus juga mempertanyakan kebijakan pemerintah setempat atas kedua guru tersebut. Menurutnya, tiga bulan lalu kedua guru tersebut sudah dipindahkan ke sekolah berbeda, namun saat ini keduanya dikembalikan lagi ke SDK Kelewae. Hal tersebut, kata Fridus, membuat pemilik tanah merasa dilecehkan sehingga menyegel sekolah.
"Ada dua alasan, mengapa kami datang ke DPRD. Pertama, dua orang guru yang sudah dimutasikan ke sekolah yang berbeda kenapa saat ini dikembalikan lagi ke SD Kelewae? Padahal masyarakat menghendaki keduanya pindah. Hal kedua, tidak ada lagi keharmonisan di sekolah," tutur Fridus.
Kepala sekolah dan ketua komite sekolah menyampaikan hal yang sama di depan anggota DRPD Nagekeo yang terdiri dari Ketua DPRD, Gaspar Batu Bata, Wakil Ketua DPRD, Stanis Paso dan Thomas Tiba, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO), Yuli Lamuri, Kepala Badan Kepegawaian Daerah Ceme Benediktus serta beberapa anggota Dewan lainnya.
"Saya sedih bapak ibu datang dengan anak-anak sekolah saat ini. Sejak saya menjadi anggota DPRD dari tahun 1991 saat masih di Ngada dulu, ini kali pertama anak sekolah menghadap Dewan. Saya sudah dapat laporan dari Komisi C bahwa persoalan di SDK Kelewae sudah selesai dan komisi C. Saya tahu sudah bekerja, tetapi kok begini lagi," kata Ketua DPRD Nagekeo, Gaspar Batu Bata.
Saat itu juga Gaspar langsung meminta penjelasan dari kepala sekolah dan pengurus komite. "Apa sudah pernah lapor Kepala Dinas PPO atau Bapak Bupati? Kalau sudah, kenapa sampai sekarang terjadi lagi," tanya Gaspar yang langsung dijelaskan Margareta tentang duduk perkaranya.
Margareta menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan masalah itu kepada camat Boawae, UPTD Boawae dan PPO. "Kita minta pemerintah agar dalam 1 x 24 jam, anak-anak sekolah harus masuk sekolah lagi," kata Thomas Tiba. DPRD Nagekeo berjanji secepatnya menyelesaikan persoalan tersebut agar para murid tidak dikorbankan.
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2010/08/01/11344223/Dua.Guru.Selingkuh..Sekolah.Disegel.-5
Ditipu Suami, Bibiana Tenggak Baygon
Senin, 30 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 06.58 | Label: Berita Terbaru, Heboh
Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, baunya pasti tercium juga. Adagium ini mungkin tepat untuk menggambarkan sikap Pujiono alias Cokro (34).
Pria yang juga pimpinan proyek (Pimpro) salah satu bangunan di Kota Mbay itu, ternyata menyimpan rahasia tentang status perkawinannya. Mengaku masih bujang, Pujiono kemudian mempersunting Bibiana Ame Kae (18) gadis asal Maunori, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Flores.
Sekitar setahun lebih keduanya mengayuh bersama bahtera rumah tangga yang baru. Semuanya aman, tanpa masalah. Namun badai itu tiba-tiba datang menerpa ketika suatu malam, Bibiana menelepon keluarga suaminya di Malang, Jawa Timur.
Saat itu Bibiana ingin menyampaikan kabar bahwa Pujiono sedang sakit. Apa daya, ia justru berbicara dengan istri Pujiono di Malang.
Istri Pujiono menuturkan bahwa mereka sudah menikah dan punya dua anak. Anak sulung sudah SD dan anak nomor dua masih kecil. Sejak terima kabar itu Bibiana dan Pujiono pun sering cekcok. Lantaran tak tahan dengan ulah suaminya, Jumat (27/8/2010) sore, Bibiana melakukan aksi nekad. Ia hendak bunuh diri di kamar nomor 15 Hotel Sinar Kasih Mbay.
Ia meminum cairan baygon yang dicampur pil bodrex sebanyak 30 biji. Namun aksi itu tidak berhasil karena nyawanya diselamatkan saudara kandungnya yang mengetahui aksi tak terpuji itu.
Bibiana mengaku sebelum menelan campuran baygon dan bodrex ia terlebih dahulu mengirim pesan pendek (SMS) kepada kakaknya dan Pujiono. Kepada kakaknya, ia menuliskan "Kaka minta maaf atas kesalahan ade selama ini". Sedangkan kepada Pujiono, ia menulis lagi sebuah SMS. "Selamat berbahagia bersama istri."
Menerima SMS itu, kakak Bibiana menaruh curiga. Ia langsung melacak keberadaan saudarinya itu. Setelah dicaritahu ternyata Bibiana menginap di Hotel Sinar Kasih Mbay.
Lantaran pintu kamar hotel itu dikunci dari dalam, kakaknya bersama salah seorang petugas hotel berusaha masuk melalui jendela. Saat itu keduanya menemukan Bibiana dalam keadaan terkapar. Saat itu juga korban langsung dilarikan ke Puskesmas Danga Mbay.
"Saya melakukan ini karena sangat kecewa dengan suami saya. Kami menikah sekitar satu tahun lalu di KUA (Kantor Urusan Agama) Ende. Saat itu dia mengaku masih bujang dan selama kami berkeluarga, semuanya aman-aman saja. Tidak pernah ada masalah," tutur Bibiana.KOMPAS.com
Diusir dari Rumah Dinas Karena 'Kumpul Kebo'
Minggu, 22 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 16.50 | Label: Berita Terbaru, Heboh, seks
Pihak berwenang di Malaysia telah mengusir sejumlah pegawai negeri Muslim dari rumah dinas. Pasalnya, mereka ketahuan "kumpul kebo" di rumah masing-masing.
Harian The New Straits Times mengungkapkan, tindakan itu dalam rangka kampanye memberantas kemaksiatan di kalangan pegawai pemerintah. Program itu berlaku sejak awal tahun ini diterapkan di kompleks rumah dinas pegawai negeri di Putrajaya, wilayah yang menjadi pusat pemerintah Malaysia.
Che Mat Che Ali, Kepala Departemen Hubungan Islami, mengungkapkan bahwa sanksi ini ditujukan bagi pegawai Muslim dan sejalan dengan Syariah Islam. Penggerebekan itu mengerahkan polisi syariah. "Mungkin ini kelihatannya kejam, tapi kami ingin masyarakat di Putrajaya tahu bahwa masalah ini kami anggap serius," kata Ali.
Dia mengungkapkan, pegawai yang tertangkap selanjutnya diadili dan harus angkat kaki dari rumah dinas. Namun, dia tidak menyebutkan berapa pegawai yang sudah terjaring operasi ini.
Dua pertiga dari 28 juta warga di Malaysia adalah beragama Islam. Mereka harus mematuhi peraturan-peraturan moral yang berlaku - seperti dilarang minum alkohol di tempat umum. Pelaksanaan aturan itu dilakukan oleh pihak berwenang dan pengadilan khusus. (Associated Press)• VIVAnews
Oknum PNS Ketahuan Selinkuh '' Diarak Warga Ke Balai Desa ''
Diposting oleh admin di 16.42 | Label: Berita Terbaru, Heboh, seks
Seorang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Ngawi, Isram, 57, warga Dusun Suko, Desa Karangasri, Kecamatan/Kabupaten Ngawi digerebeg warga di rumah perempuan bersuami, di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jumat (20/8) malam.
Lelaki ini menurut warga sering tidur di Sri Amini, 50, yang sudah beranak dua. Sri Amini, selama ini ditinggal suaminya bekerja di perusahaan pelayaran di Australia sejak 4 tahun lalu.
Warga mengaku geregetan melihat ulah Isram yang dianggap tidak mengindahkan tata krama desa setempat, hingga akhirnya kesabaran warga habis pada malam itu. Saat digerebeg warga, oknum PNS itu sedang tidur di kamar Sri.
Keduanya tidak berkutik ketika puluhan warga memergoki keduanya berada di dalam kamar. Isram dan Sri Amini menurut saja ketika warga menggelandangnya ke kantor Desa Kedungbanteng untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Menurut Kades Kedungbanteng, Yanto, Isram dan Sri Amini memang sudah 2 tahun memadu kasih. Mereka sering bertemu, karena Isram pelatih senam pernapasan Mahatma di Desa Kedungbanteng. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, oknum PNS itu, sering tidur dan menginap di rumah warganya.
Dari pertemuan di balai desa itu, disepakati masalah itu diselesaikan dengan menghadirkan istri sah Isram. “Kami panggil istri sah Isram yang masih dalam perjalanan dari Ngawi sekarang,” tambah Yanto.
Sementara, Isram mengaku siap bertanggungjawab atas segala perbuatannya. Dia juga bersedia menikahi Sri Amini dan menjadikannya sebagai istri kedua. Meski sebagai PNS dia dilarang berpoligami, dia berketetapan bakal menikahi perempuan selingkuhannya itu.
Dia siap menikahi Sri Amini sebagai istri sah. “Pokoknya saya mau menikahinya. Sebab istri sah saya juga menyetujui saya kawin lagi,” tandasnya.
Namun Kades Yanto mengatakan, soal mau menikahi istri orang itu, akan diselesaikan dengan cara lain. Saat ini pihaknya ingin Isram tidak melakukan tindakannya yang meresahkan warga, yaitu menginap di rumah perempuan lain. “Karena warga sudah geram melihat aksi mesumnya,” terangnya kepada Surya.
Kasus ini tidak dilanjutkan ke polisi, karena tidak ada pihak yang keberatan. Surya
Pahlawan Perang AS Bantai Keluarga Sendiri
Jumat, 20 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 09.11 | Label: Berita Terbaru
Di medan perang jadi jagoan, di rumah sendiri malah menjadi monster. Secara tragis, seorang tentara di Amerika Serikat (AS) diduga mengakhiri hidupnya setelah membantai istri yang tengah hamil dan seorang anaknya yang masih berusia 13 bulan. Tiga anjingnya pun turut dibunuh.
Pelaku bernama Matthew Magdzas. Peristiwa memilukan itu berlangsung di rumah Magdzas di kota Superior, negara bagian Wisconsin.
Menurut tim penyelidik, aksi pembantaian dan bunuh diri itu kemungkinan berlangsung pada Selasa sore, 17 Agustus 2010 waktu setempat. Namun, motif kasus itu masih diselidiki.
Selain itu, polisi tidak menemukan pesan terakhir dari Magdzas, seperti yang umumnya dilakukan para pelaku bunuh diri sebelum mengakhiri hidup.
Mereka menemukan sepucuk pistol 9 mm, yang diduga digunakan Magdzas untuk membantai semua penghuni rumah, termasuk dirinya sendiri. Polisi juga menemukan sebuah benda yang diduga adalah bom di dalam suatu ransel. Namun tim penjinak menyatakan bahwa benda itu tampaknya bukan bom, walau akhirnya mereka hancurkan.
Kepada kantor berita Associated Press, Kapten Chad La Lor dari Kepolisian Superior mengungkapkan bahwa penyelidik akan berupaya mendapatkan rekam medis Magdzas, untuk mengetahui apakah yang bersangkutan pernah mengeluh atau menjalani perawatan atas gangguan stres setelah bertugas.
Magdzas adalah seorang prajurit Garda Nasional yang bermarkas di Wisconsin. Pria berusia 23 tahun itu diketahui pernah bertugas di Irak dan mendapatkan medali penghargaan atas jasanya di medan tempur.
Namun, upaya polisi untuk mendapat rekam medis pelaku di kesatuannya tidaklah mudah. Juru bicara Garda Nasional Wisconsin, Letnan Kolonel Jackie Guthrie, menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa mengungkap data medis Magdzas kepada publik.
Magdzas terdaftar sebagai prajurit Garda Nasional pada 2004. Dua tahun kemudian dia mendaftarkan diri ke Batalion ke-1 dari Resimen Artileri 121 yang dikerahkan ke Irak. Menurut Guthrie, unit itu bertugas melindungi konvoi dari Kuwait ke Irak bagian utara.
Sebagai juru tembak kendaraan tempur, Magdzas pernah terlibat dalam pertempuran di suatu wilayah di Irak pada November 2006. Atas jasanya, dia mendapat medali penghargaan. Penugasan Magdzas di Irak berakhir pada 2007.
Sekembalinya di kampung halaman, Magdzas lalu bekerja sebagai instruktur senjata api di suatu sekolah menembak. (Associated Press)VIVAnews
Kalah Perang Meriam Bambu, Tawuran
Selasa, 17 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 12.15 | Label: Berita Terbaru, HebohGara-gara kalah dalam perang meriam bambu, dua kampung di Kecamatan Sakra Barat,Kabupaten Lombok Timur, Senin (16/8/2010) pukul 22.30 Wita terlibat tawuran, saling lempar batu dan saling adu jotos, hingga menggunakan senjata tajam.
"Di antara kampung yang terlibat tawuran tersebut adalah Dusun Gerumus dan Dusun Malah, Desa Gunung Rajak, Kecamatan Sakra Barat, dengan buntut tawuran, satu orang warga Dusun Gerumus, L.Sukrana terkena luka tusuk di pinggang bagian kiri dan pipi kiri," kata Kapolres Lombok Timur AKBP Erwin Zadma..
Akibatnya Sukrana terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr.R.Soejono Selong untuk mendapatkan perawatan intensif.
Sementara pelaku penusukan diamankan oleh pihak aparat kepolisian, berikut senjata tajam yang digunakan, guna proses hukum lebih lanjut, termasuk memeriksa beberapa orang saksi mata yang mengetahui kejadian tersebut.
Kapolres Lotim, AKBP, Erwin Zadma, saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya telah menerima laporan terjadinya aksi tawuran dua kampung di Sakra Barat, hanya karena hal sepele yakni saling ejek diantara kedua kubu yang sedang membunyikan meriam bambu.
"Kasusnya kita sudah tangani, termasuk pelakunya juga sudah diamankan untuk proses hukum," tegas Kapolres.
AKBP Erwin Zadma menjelaskan kasus ini bermula dari aksi perang meriam bambu yang dilakukan oleh beberapa pemuda di kedua kampung yang bersebelahan di salah satu jalan di Gunung Raj.KOMPAS.com
Agustusan, Ibu-ibu Lomba Lempar Tabung Elpiji
Senin, 09 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 14.22 | Label: Berita Terbaru, Heboh
Merebaknya kasus tabung elpiji yang tidak aman dan mudah bocor hingga menimbulkan ledakan yang memakan korban jiwa, dikritisi secara unik oleh warga RW 5 Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Kritik unik akan keamanan tabung dilakukan dengan cara menggelar lomba lempar tabung gas elpiji ukuran 3 kg. Acara ini menjadi rangkaian kegiatan aneka lomba dalam rangka perayaan HUT ke-65 Republik Indonesia.
“Mengapa tabung gas 3 kg? Karena ini sangat dekat dengan kehidupan warga sehari-hari,” terang Darmanto, Ketua RT III, mengenai lomba unik yang diselenggarakan warga RW V. “Dan kami ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan kualitas tabung dan alat yang terkait dengan penggunaan kompor gas. Jangan sampai ada korban karena kualitas tabung atau regulator atau selang yang tidak bagus,” ucapnya.
Pada dinding tabung berwarna hijau yang digunakan untuk lomba, panitia menempelinya dengan tulisan tabung elpiji bocor dan non-SNI. Secara kebetulan, tabung yang digunakan memang tabung yang rusak pada bagian lubang atasnya dan tidak ada logo Standar Nasional Indonesia (SNI) meski tercetak logo dan nama Pertamina di salah satu sisi tabung.
Lomba yang digelar di pinggiran sawah bekas panen itu, berlangsung cukup unik. Ibu-ibu secara bergiliran mencoba melemparkan sejauh mungkin tabung kosong seberat 5 kg itu. Siapa yang mampu melempar paling jauh, dia dinyatakan menjadi pemenang.
Satu persatu, ibu-ibu yang biasa berkutat di dapur dan dekat dengan si tabung bulat hijau ini pun beraksi. Ada yang melemparkan tabung seperti orang melempar bola boling, yakni mengayunkan tabung dari bawah dan melepaskan tabung saat posisi lengan ke atas. Namun ada juga yang bergaya ala atlet tolak peluru serta bergaya ala kadarnya , yakni memegang tabung dengan kedua tangan dan melemparkannya ke arah depan. Lomba ini dimenangi oleh Nyonya Lutfi yang mampu melempar tabung sejauh 6,20 meter.
“Di daerah sini memang tidak pernah ada kejadian gas ngowos atau meledak, tapi kami juga khawatir kalau ada tabung yang tidak beres,” kata Nyonya Lutfi.
Di Kota Malang, korban luka akibat kebakaran yang terjadi oleh ledakan gas elpiji yang bocor sudah kerap terjadi. Selama 2010 ini, tercatat lebih dari enam kasus yang membawa korban luka karena kebocoran gas elpiji. Peristiwa terakhir terjadi 28 Juli lalu dan menimpa Susriwati, 34 tahun, warga Jalan Kapri, RT V RW IV, Kelurahan Bumiaji Kecamatan Kedungkandang Malang. Pedagang nasi pecel ini mengalami luka bakar, setelah ada kebocoran gas elpiji 3 kg di dapurnya.
Lomba unik 17 Agustusan juga digelar puluhan penyandang cacat dari kelompok Anggrek Penyandang Cacat Berkreasi (PCB) Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu (8/8) sore.
Para penyandang cacat ini tidak ingin kalah dari mereka yang bertubuh normal dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Dengan penuh kepercayaan diri serta semangat, mereka berlomba untuk menjadi yang terbaik saat mengikuti berbagai lomba seperti makan krupuk, bola contong, joget balon, balap karung dan lainnya.
Jika biasanya orang berbadan normal berjoget dengan berdiri, mereka terpaksa dengan duduk. Begitu pula saat harus berlari seperti dalam lomba makan krupuk maupun bola contong, mereka berlari dengan merangkak, bahkan ngelesot.
Sedangkan untuk penyandang cacat tuna netra, mereka kebagian menyanyi dengan iringan elekton yang dimainkan Mauludin, penyandang cacat lainnya.
Dengan segala keterbatasannya, para penyandang cacat tampak merasa berbahagia dan berbagi ceria di antara mereka dan juga penonton.
“Wong lomba belum digelar saja, kami sudah tertawa-tawa membayangkannya. Apalagi saat acara berlangsung seperti ini, kami benar-benar merasakan kebahagiaan,” terang Sapto Juli Ismiarti, Ketua Anggrek PCB. Lomba-lomba memperingati HUT ke-65 RI ini digelar secara spontan oleh para penyandang cacat.SUN
VIVAnews - Bongkahan es seluas 251,2 km persegi terpecah dari suatu gletser (sungai es) utama di kawasan dekat Kutub Utara jelang akhir pekan lalu. Bagi kalangan ilmuwan, pecahan es ini merupakan yang terbesar dalam kurun waktu hampir setengah abad.
Menurut laman harian The Washington Post, terpisahnya bongkasan es itu direkam oleh satelit MODIS milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan dipublikasikan Jumat, 6 Agustus 2010 waktu setempat.
Bongkahan es itu berasal dari Gletser Petermann di Greenland. Wilayah otonomi Denmark itu terletak di antara Kutub Utara dan Samudera Atlantik.
Mengingat ukurannya yang besar, bongkahan es itu membentuk "pulau baru." Menurut Universitas Delaware, itu merupakan bongkahan es terbesar yang berpisah dari induknya sejak 1962. Ukurannya 40 persen lebih besar dari ibukota AS, Washington D.C.
Pecahnya bongkahan es di sekitar Kutub Utara bukanlah fenomena baru. Namun, berdasarkan ukurannya yang besar, fenomena itu biasanya lebih sering terjadi di Kutub Selatan ketimbang yang di utara.
Peneliti dari Universitas Delaware, Andreas Muenchow, mengatakan bahwa pecahan es itu tidak serta-merta dikaitkan dengan pemanasan global. Menurut dia, penyebab pecahan itu bisa saja akibat derasnya arus laut di bawah gletser.
Pria berusia 35 tahun digigit hingga tewas oleh babi yang dipeliharanya di Kabupaten Zala, Hongaria barat daya, Minggu (8/8/2010). Babi jantan peranakan Hongaria dengan berat 140-150 kilogram yang diberi nama Mangalitsa, kadang kala dikenal babi keriting, tersebut menerobos ke luar kandangnya dan sewaktu pemiliknya berusaha memaksanya kembali ke dalam kandang, binatang itu menggigit paha pemiliknya sehingga pembuluh nadi utamanya luka parah, demikian laporan kantor berita setempat, MTI.
Ayah tiga anak tersebut, yang namanya tak disebutkan, kehabisan darah sebelum helikopter ambulans yang dikirim untuk membantu dia tiba di rumahnya. Upaya operasi selama dua jam gagal untuk menyelamatkan pria naas itu.
Majikan pria tersebut, dokter hewan Laszlo Belso, mengatakan, pria yang tewas itu telah biasa memperlihatkan keahlian tinggi ketika bekerja dengan binatang, yang merupakan bagian dari tugasnya.
Babi jantan tersebut, kata Belso, sebelumnya telah beberapa kali menerobos ke luar kandang. Polisi sedang menyelidiki peristiwa itu.Kompas
Guru Cabuli 7 Siswi, Divonis 2 Tahun
Sabtu, 07 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 08.25 | Label: Berita TerbaruMajelis Hakim Pengadilan Negeri, Lahat, Sumatera Selatan, Jumat (6/8/2010) menjatuhkan hukuman dua tahun penjara terhadap oknum Kepala Sekolah Dasar di Desa/Kecamatan Gumay Talang, AM, yang mencabuli tujuh siswi.
Peristiwa pencabulan siswa kelas IV dan V itu terjadi saat perkemahan Sabtu dan Mingu (Persami) di Desa Muara Tandi, Kecamatan Gumay Talang, Kabupaten Lahat, Februari lalu.
Selain hukuman penjara, terdakwa juga didenda Rp 60 juta, subsidair dua bulan kurungan. "Hingga akhir persidangan, AM belum ditahan, hal ini atas jaminan pihak keluarga dan pengacaranya, Anisa. Kemudian setiap persidangan terdakwa menjalani berkelakuan baik dan selalu kooperatif," kata hakim ketua, Rais Tordji.
Namun, dalam putusannya, majelis hakim memerintahkan supaya terdakwa ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A, Lahat.
Terdakwa juga mengakui perbuatannya. "Yang meringankan, terdakwa belum pernah melakukan tindak pidana, serta menyesali perbuatannnya," ungkapnya.
Menurut hakim, ada juga perjanjian perdamaian di hadapan orangtua siswa dan masyarakat untuk tidak mengulangi perbuatannnya. Semua itu, katanya, menjadi pertimbangan hakim dalam memutuskan hukumannya.KOMPAS.com
Ibu Cekoki Anak Racun Tikus
Rabu, 04 Agustus 2010 Diposting oleh admin di 08.25 | Label: Berita Terbaru
Reni Yuliana, 32, bersama dua anak perempuannya, Ragil Febrianti, 6, dan Fafa Sahara, 3, hingga Selasa (3/8), masih tergolek di RSUD dr Haryoto Lumajang. Ketiganya baru saja menenggak racun tikus.
Warga Dusun Bedog, Desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, itu Senin (2/8), mengajak kedua anaknya secara bersama-sama menenggak racun tikus. Ketiganya tergeletak tak sadarkan diri di dalam rumah. Peristiwa itu diketahui anak sulungnya, Pegi, 14, yang kemudian melaporkan kepada para tetangga. Ketiganya segera dilarikan ke rumah sakit.
Kepada para wartawan yang membesuknya, Reni menuturkan, keputusan meminum racun tikus karena merasa tak mampu mengembalikan utang. Menurut Reni, jumlah utangnya mencapai Rp 10 juta lebih.
“Sebentar lagi puasa dan hari raya Idul Fitri sudah dekat. Saya harus segera mengembalikan seluruh utang saya. Sedang saya tidak punya apa-apa,” tutur Reni lemah.
Reni yang dirawat di Ruang Melati didampingi ibu tirinya, Mutmainah, 52. Sedangkan Febri dan Fafa Sahara yang akrab disapa Rara, terbaring di Ruang Bougenville ditemani ayahnya, Totok Triwahyudi, 37. Selang infus masih tampak di tangan mereka.
Menurut penuturan Mutmainah, Reni juga mencekoki kedua anaknya dengan racun tikus karena tak tega meninggalkan keduanya jika meninggal dunia. “Kalau saya nggak ada, siapa yang akan merawat keduanya. Karena itu, biar saya ajak serta kedua anak saya,” ucap Mutmainah menirukan kata-kata Reni.
Reni menenggak 10 bungkus racun tikus berupa bubuk. Sedangkan kedua anaknya masing-masing satu sendok. Kepada kedua anaknya, Reni mengatakan yang diminum adalah jamu.
Reni mengaku dirinya selama ini hidup pas-pasan. Apalagi setelah anak sulungnya yang masih SMP baru sembuh dari sakit. Dirinya pun berutang hingga Rp 10 juta. “Saya hidup pas-pasan Mas. Karena suami saya hanya bekerja sebagai kernet truk. Yang membuat saya bingung, selain saya tidak punya uang simpanan untuk kebutuhan Lebaran yang sudah dekat, belakangan ini saya terus ditagih utang,” kata Reni.
Setelah uang yang dipinjam dari kredit arisan kampung ludes, barulah Reni bingung. Apalagi utang itu tidak diketahui oleh suaminya. “Saya memang niat bunuh diri saat suami saya berangkat bekerja ke Solo. Suami saya biasanya pulang tiga hari sekali. Saya bunuh diri karena kasihan dengan suami, lantaran saya yang memang nekat berutang dan suami tidak tahu,” ungkapnya.
Suami Reni, Totok Triwahyudi, tampak pasrah menghadapi masalah yang dihadapi keluarganya. Totok pun diimpit persoalan baru, yakni biaya perawatan istri dan kedua anaknya. Keluarga miskin ini tidak bisa mendapatkan biaya perawatan gratis karena tidak memiliki kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) maupun Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Totok.
Direktur Utama RSUD dr Haryoto, Triworo Setyowati yang didampingi Wakil Direktur Pelayanan dr Indrajudi mengaku, kondisi ketiga korban sudah membaik. “Alhamdulillah, kondisinya membaik meski masih dalam kondisi shock,” kata dr Indrajudi pada wartawan.
Sebelum melewati masa kritis, anak kedua korban sempat mengalami pendarahan lambung. Dikarenakan racun yang diberikan begitu banyak dan antibodi tubuh tidak bisa melawan. Racun tikus yang diminum ketiga korban, menurut Indrajudi, memang sangat memengaruhi otot di pernapasan dan pencernaan. Sedangkan korban mengalami halusinasi karena stres berat. “Racun tidak sampai ke otak kok, kami hanya mengambil racun dari dalam tubuh yakni lambung,” jelas Indrajudi.
Reni dan kedua anaknya kini menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit. Apalagi saat sejumlah wartawan TV mengambil gambar. Pengunjung dan keluarga pasien berhamburan mendekati ruang perawatan korban.
Ketua DPRD Kabupaten Lumajang Agus Yudha Wicaksono, meminta pemkab memerhatikan nasib yang dialami keluarga Reni. “Kami akan koordinasi dulu. Besok (hari ini), jajaran kami akan ke rumah korban,” tegas Agus Yudha Wicaksono.
Tentang korban tidak memiliki kartu Jamkesmas dan Jamkesda, menurut politikus PDIP ini, bukan menjadi ganjalan bagi pemkab untuk membebaskan keluarga Totok dari biaya rumah sakit. “Enggak ada masalah, yang penting pemerintah desa melaporkan ke pemkab. Ini kan kewajiban pemkab untuk membantu orang miskin. Kalau setelah dicek mereka memang keluarga miskin, ya harus dibantu dong. Dananya kan sudah ada,” tegasnya.
Wakapolres Lumajang Kompol Elijas Hendrajana mengaku akan menyelidiki motif Reni mengajak kedua anaknya menenggak racun tikus. “Pengusutannya akan kami mulai dari TKP di rumah Ny Reni Yuliana,” kata Kompol Elijas dilansir detiksurabaya.
Setelah melakukan olah TKP dan mengumpulkan bukti, pihaknya akan mengirim data dan sampel ke Polda Jatim. “Yang menjadi perhatian kami adalah kenapa dia sampai begitu tega melakukan percobaan pembunuhan terhadap kedua anaknya. Apa motif dan latar belakang sebenarnya. Apakah karena faktor ekonomi atau ada motif yang lain,” tambahnya.
Bila terbukti bersalah, maka Reni akan dijerat dengan UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002. Meski begitu pihaknya akan menunggu kondisi Reni pulih, karena saat ini masih labil.
Sementara Kasi Kesetaraan Gender Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Lumajang yang juga anggota P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak), Gatot Suprabowo berencana mendatangi korban di rumah sakit.
Tujuannya untuk mendampingi dan konseling serta mencari tahu latar belakang korban nekat bunuh diri mengajak anak-anaknya. “P2TP2A akan mengikutsertakan tenaga psikiater dari RS Bhayangkara Lumajang, yang masuk menjadi bagian tim pendampingan untuk menemui dan menghimpun keterangan dari Ny Reni Yuliana, “ kata Gatot Suprabowo.
Kegilaan Sesaat
Ahli psikologi dari Ubaya, Elly Yuliandari, memastikan bahwa tekanan batin ibu dan anaknya di Lumajang itu sudah sangat luar biasa. Karena begitu berat beban psikologisnya, sehingga sang ibu nekat dan memilih ingin mengakhiri hidupnya hanya lantaran terlilit utang. “Ini menandakan bahwa kepribadian sang ibu belum matang,” kata Elly.
Beratnya tekanan itu akibat akumulasi persoalan hidup yang ditanggung. Karena secara psikologis tak matang, logika sang ibu menjadi tak jalan. Dalam kondisi ini, orang tidak lagi mau berpikir panjang.
“Saat itu, orang dalam situasi mengalami kegilaan sesaat. Kesadarannya tercerabut. Biasanya suka bengong dan bertingkah yang aneh-aneh. Jangan sampai seseorang yang mengalami kegilaan sesaat ini dibiarkan sendiri. Harus ditemani dan dibesarkan hatinya,” tambah dosen Ubaya ini.
Beban ekonomi menjadi salah satu penyebab utama seseorang mengalami depresi. Kondisi ini diperparah dengan perkembangan budaya masyarakat yang saat ini cenderung konsumtif dan semakin individualis. Lilitan utang yang tak mendapat dukungan dari keluarga dan orang lain sangat terasa bebannya.
Menurut psikolog ini, salah satu yang harus dilakukan adalah mengangkat beban dalam dirinya. Baik keluarga maupun orang-orang di sekitar ada baiknya membantu mengatasi persoalan ekonominya. Namun, kultur membantu dan peduli sesama belakangan ini diakui sudah mulai luntur. Ini yang mengakibatkan depresi akibat tekanan hidup semakin besar.
Ada kecenderungan, kebersamaan sosial bahkan keluarga besar juga sudah mulai luntur. Seseorang yang menderita tekanan batin akibat kesulitan ekonomi akan semakin membuat seseorang cenderung ditinggalkan. Sosoknya menjadi terasing atau yang bersangkutan mengalami isolasi sosial.
“Mengakhiri hidup sendiri karena depresi akibat ekonomi ini diperkirakan akan terus terjadi. Tidak ada yang mampu mencegah karena setiap sudut sosial seakan turut menciptakan individualis. Di Jepang banyak terjadi. Begitu juga di Jakarta dan di Jatim juga sering ibu mengajak anaknya bunuh diri,” lanjutnya.
Masa-masa seperti menyekolahkan anak, liburan, sampai Lebaran besok menjadi masa yang rawan seseorang atau orangtua mengalami depresi. Karena budaya juga, eksistensi diri saat Lebaran juga cenderung diukur dari materi. Suasana rumah yang baru sampai baju baru akan mendominasi. “Telah terjadi pergeseran. Solusinya, kebersamaan dan ikatan keluarga harus ditumbuhkan,” tutur EllyArsip Blog
-
▼
2014
(15)
- ► 10/26 - 11/02 (5)
- ► 08/17 - 08/24 (1)
- ► 07/13 - 07/20 (2)
- ► 07/06 - 07/13 (4)
- ► 06/15 - 06/22 (1)
- ► 01/19 - 01/26 (1)
-
►
2013
(38)
- ► 08/18 - 08/25 (1)
- ► 07/28 - 08/04 (1)
- ► 06/16 - 06/23 (2)
- ► 06/09 - 06/16 (3)
- ► 06/02 - 06/09 (6)
- ► 05/26 - 06/02 (2)
- ► 05/19 - 05/26 (3)
- ► 03/10 - 03/17 (1)
- ► 03/03 - 03/10 (3)
- ► 02/24 - 03/03 (3)
- ► 02/17 - 02/24 (4)
- ► 02/10 - 02/17 (4)
- ► 01/27 - 02/03 (4)
- ► 01/13 - 01/20 (1)
-
►
2012
(44)
- ► 12/23 - 12/30 (1)
- ► 11/18 - 11/25 (2)
- ► 11/11 - 11/18 (3)
- ► 10/21 - 10/28 (2)
- ► 10/14 - 10/21 (5)
- ► 08/26 - 09/02 (1)
- ► 07/29 - 08/05 (2)
- ► 06/03 - 06/10 (2)
- ► 04/15 - 04/22 (6)
- ► 02/19 - 02/26 (4)
- ► 01/29 - 02/05 (6)
- ► 01/15 - 01/22 (3)
- ► 01/08 - 01/15 (7)
-
►
2011
(138)
- ► 10/30 - 11/06 (2)
- ► 10/23 - 10/30 (7)
- ► 10/16 - 10/23 (7)
- ► 10/09 - 10/16 (5)
- ► 09/11 - 09/18 (4)
- ► 09/04 - 09/11 (6)
- ► 08/28 - 09/04 (8)
- ► 08/07 - 08/14 (1)
- ► 07/24 - 07/31 (6)
- ► 07/10 - 07/17 (5)
- ► 06/26 - 07/03 (2)
- ► 06/19 - 06/26 (4)
- ► 06/12 - 06/19 (3)
- ► 06/05 - 06/12 (3)
- ► 05/22 - 05/29 (2)
- ► 05/15 - 05/22 (4)
- ► 05/08 - 05/15 (4)
- ► 05/01 - 05/08 (2)
- ► 04/24 - 05/01 (4)
- ► 04/17 - 04/24 (3)
- ► 04/10 - 04/17 (4)
- ► 04/03 - 04/10 (5)
- ► 03/27 - 04/03 (5)
- ► 03/20 - 03/27 (2)
- ► 03/13 - 03/20 (3)
- ► 03/06 - 03/13 (1)
- ► 02/27 - 03/06 (9)
- ► 02/20 - 02/27 (1)
- ► 02/13 - 02/20 (11)
- ► 02/06 - 02/13 (2)
- ► 01/30 - 02/06 (2)
- ► 01/23 - 01/30 (5)
- ► 01/16 - 01/23 (2)
- ► 01/09 - 01/16 (4)
-
►
2010
(252)
- ► 12/26 - 01/02 (6)
- ► 12/19 - 12/26 (4)
- ► 12/12 - 12/19 (8)
- ► 12/05 - 12/12 (11)
- ► 11/28 - 12/05 (3)
- ► 11/21 - 11/28 (1)
- ► 11/14 - 11/21 (3)
- ► 11/07 - 11/14 (1)
- ► 10/31 - 11/07 (1)
- ► 10/17 - 10/24 (8)
- ► 10/10 - 10/17 (2)
- ► 09/12 - 09/19 (1)
- ► 09/05 - 09/12 (1)
- ► 08/29 - 09/05 (1)
- ► 08/22 - 08/29 (4)
- ► 08/15 - 08/22 (4)
- ► 08/08 - 08/15 (4)
- ► 08/01 - 08/08 (2)
- ► 06/27 - 07/04 (26)
- ► 06/20 - 06/27 (25)
- ► 06/13 - 06/20 (10)
- ► 06/06 - 06/13 (5)
- ► 05/30 - 06/06 (19)
- ► 05/23 - 05/30 (2)
- ► 05/16 - 05/23 (10)
- ► 05/09 - 05/16 (4)
- ► 05/02 - 05/09 (6)
- ► 04/25 - 05/02 (7)
- ► 04/18 - 04/25 (6)
- ► 04/11 - 04/18 (8)
- ► 04/04 - 04/11 (10)
- ► 03/28 - 04/04 (8)
- ► 03/21 - 03/28 (14)
- ► 03/14 - 03/21 (3)
- ► 03/07 - 03/14 (4)
- ► 02/28 - 03/07 (6)
- ► 02/21 - 02/28 (5)
- ► 01/31 - 02/07 (1)
- ► 01/17 - 01/24 (3)
- ► 01/10 - 01/17 (5)
-
►
2009
(40)
- ► 12/20 - 12/27 (2)
- ► 12/13 - 12/20 (1)
- ► 11/29 - 12/06 (2)
- ► 11/22 - 11/29 (6)
- ► 11/15 - 11/22 (9)
- ► 11/08 - 11/15 (8)
- ► 11/01 - 11/08 (2)
- ► 04/12 - 04/19 (1)
- ► 04/05 - 04/12 (1)
- ► 03/08 - 03/15 (3)
- ► 03/01 - 03/08 (1)
- ► 02/08 - 02/15 (3)
- ► 02/01 - 02/08 (1)
-
►
2008
(25)
- ► 08/10 - 08/17 (3)
- ► 07/13 - 07/20 (8)
- ► 07/06 - 07/13 (6)
- ► 06/29 - 07/06 (5)
- ► 06/22 - 06/29 (3)
