Penari Telanjang di Jakarta - Polisi menetapkan 16 penari telanjang dari Golden Hands Hotel and Spa sebagai tersangka kasus pornografi dan pornoaksi. Selain itu, empat koordinator penari dan seorang disc jockey (DJ) juga dijerat dalam kasus yang sama.
Mereka kini ditahan di Mapolres Metro Jakarta Utara. "Total ada 21 orang Mereka kita tetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara AKBP Didi Hayamansyah saat dihubungi, Senin, 27 Februari 2012.
Menurut Didi, mereka akan dijerat dengan Pasal 34, Pasal 35, dan Pasal 36 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Anti-pornografi dan Pornoaksi serta Pasal 281 ayat 1e KUHP tentang Kesusilaan.
Sementara itu, polisi masih terus mendalami kasus ini. "Bagaimana modusnya, pembagian fee, itu masih kami dalami. Yang jelas sudah ada indikasi ke sana (pornografi dan pornoaksi)," kata Didi.
Sebelumnya aparat Subdirektorat Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengamankan belasan wanita yang berprofesi sebagai penari telanjang di Hotel Golden Hands and Spa, Ruko Puri Delta Mas Blok B Nomor 7, Jalan Bandengan Selatan, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Rabu, 22 Februari 2012 malam. Selanjutnya kasus ini dilimpahkan ke Subdirektorat Umum Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan akhirnya dilimpahkan ke Polres Metro Jakarta Utara sesuai tempat kejadian perkara pada Kamis, 24 Februari 2012.
Keberadaan penari telanjang Indonesia terutama dikota-kota besar seperti Jakarta memang sudah menjadi rahasia umum.
Penari Telanjang di Jakarta
Selasa, 28 Oktober 2014 Diposting oleh admin di 11.04 | Label: cerita dewasakisah pekerja sex di jakarta
Minggu, 19 Mei 2013 Diposting oleh admin di 00.53 | Label: cerita dewasa, dunia malam jakarta, kisah pekerja sex di jakarta, klub malam jakarta
Dunia hiburan yang begitu gemerlap di Jakarta, bahkan denyut nadinya nonstop selama 24 jam membuat banyak peluang bagi sejumlah orang untuk mencari nafkah.
Tidak heran bila hampir semua tempat hiburan di Jakarta sudah seperti gula dirubung semut. Tidak saja untuk para karyawannya di tempat hiburan itu, tetapi juga bagi warga di sekitar lokasi tempat dugem itu.
Dengan ramainya para clubbers yang datang, roda ekonomi pun bergerak, mulai dari tukang parkir, penjual minuman pinggir jalan, penjual makanan kaki lima, dan para pengemis jalanan akan mendapatkan rezeki guna menghidupi keluarganya.
Biaya pendidikan yang membumbung tinggi dan harga susu yang tak terbeli, membuat sejumlah tempat hiburan di Jakarta menjadi satu-satunya harapan untuk memperoleh rezeki memenuhi kebutuhan anak sekolah, membeli susu bagi yang punya bayi, dan kebutuhan lainnnya, seperti membeli beras, lauk pauk, dan membayar kontrak rumah.
Salah satu profesi yang amat menggantungkan hidupnya pada dunia hiburan malam ini adalah para perempuan pekerja malam. Mereka hidup tak ubahnya seperti kelalawar, siang untuk tidur, malam hingga pagi mereka bekerja.
Seperti yang terjadi di sebuah diskotek di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta. Puluhan perempuan muda dengan dengan dandanan menor, dan pakaian yang ketat terlihat seksi hilir-mudik di lantai empat diskotek yang tidak pernah sepi dari para clubbers itu.
Mereka saling berlomba memikat tamu yang datang agar mau ditemani berajojing atau tripping bareng. Bahkan sejumlah perempuan ini juga banyak menawarkan diri untuk bisa diajak kencan short time.
Sebagian besar mereka berasal dari kota-kota di Jawa Barat, seperti Indramayu, Cirebon, Tasikmalaya, Bandung, Ciamis. Bahkan ada juga yang berasal dari Sumatra dan Kalimantan.
Di antara ingar-bingarnya house music dan remang-remangnya ruang diskotek, para perempuan ini harus bersaing ketat mendapatkan tamu. Cara apa saja dilakukan, termasuk menenggak pil ekstasi atau ineks agar tamu juga ikut senang ditemani.
“Walaupun saya besoknya nggak bisa tidur dan gak bisa makan karena pengaruh pil itu, saya harus tetap neken, karena tuntutan pekerjaan,” ujar Lisa, seorang pekerja malam yang saya temui di lantai empat diskotek di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat.
Perempuan berusia 18 ini mengaku baru tiga bulan tinggal di Jakarta.
“Kalau pakai Inex, nggak enak basiannya, Mas. Mata melotot melulu, susah makan, badan lemes, sengsara deh. Tapi kalau tamunya nawarin, kita terpaksa harus mau,” kata Lisa yang kos di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat itu.
Perempuan asal Indramayu itu bersama dua temannya datang ke Jakarta untuk mengadu nasib, karena susah mencari pekerjaan di daerahnya.
Ketika sampai di Jakarta, dia dan dua temannya mendapat tawaran bekerja sebagai hostes di diskotek ini, menemani tamu tripping dan kencan short time. “Yah, daripada jadi pengemis, tawaran pekerjaan itu saya terima,” ungkap Lisa.
Meski mengaku sebagai anak bandel, Lisa tetap mengirim uang Rp1 juta kepada orang tuanya di Indramayu.
“Ayah dan ibu saya di Indramayu sudah tua dan tidak bekerja lagi. Jadi satu-satunya harapan untuk mendapat uang ya dari saya ini,” papar Lisa lagi.
Menurut Lisa, kedua orang tuanya, tidak tahu kalau ia bekerja sebagai hostes di diskotek, tetapi kerja di salon di Jakarta.
Setiap bulan Lisa mendapat bayaran Rp3 juta dari pengelola diskotek. Namun, penghasilan paling besar tentu saja adalah dari tip yang diperoleh dari tamu yang ia temani.
Bagi Lisa, tiada hari libur untuk bekerja. Setiap hari ia datang ke diskotek itu pukul 21.00 sampai pukul 09.00 pagi.
“Di sini tamu banyak datang pada Rabu malam, Jumat malam dan Sabtu malam. Pada malam ramai itu saya bisa menemani atau kencan dengan 6-8 tamu,” katanya.
“Saya hanya lulusan SMA di daerah, paling-paling kalau jadi pramuniaga, gaji saya cuma satu juta, mana bisa untuk hidup di Jakarta dan bantu orang tua di kampung,” tutur Lisa lagi.
Dunia hiburan malam ini banyak memberinya uang, karena itu ia meminta jangan sering-sering ada razia, karena yang susah juga orang kecil.
“Waktu musim razia, diskotek sepi, saya nggak dapat tamu, nggak bisa kirim uang ke orang tua, dan gak bisa makan,” kata Lisa dengan nada lirih.
Shinta, 20, pekerja malam lainnya mengaku hanya dari dunia hiburan inilah ia bisa menyekolahkan dua adiknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.
“Saya sih bercita-cita menyekolahkan adik saya sampai sarjana. Biarlah saya yang berkorban, yang penting masa depan dua adik saya bisa lebih baik,” tuturnya.
Shinta yang tinggal di mess di Mangga Besar ini terjerat dengan kemiskinan keluarganya. Makanya kerja apapun seperti melayani lelaki hidung belang harus ia lakoni agar asap dapur keluarga bisa terus mengebul.
Bagaimanakah Dia Bekerja ?
Profesi pekerja malam lainnya yang berjuang untuk mendapatkan nafkah di dunia hiburan malam adalah para penari erotis di sejumlah klub.
Indah, penari erotis di sebuah klub di Jl Hayam Wuruk mengaku mendapat honor sekali menari Rp200 ribu dari pengelola klub.
“Namun setiap kali menari, ada tamu yang royal suka memberikan tip sampai Rp300.000. Itupun saya harus rela tubuh saya digerayangi dulu,” ucap Indah.
Menurut Indah, ayah dan ibunya yang berwirasawsta membuka toko pakaian di Glodok, tidak tahu kalau anaknya menjadi penari erotis. Mereka hanya tahu anaknya bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji.
Meski bergelut dengan dunia hiburan malam yang selalu melekat dengan narkoba, Indah mengaku tidak mau lagi memakai pil ekstasi.
“Kalau pakai Inex wajah pusat dan terlihat kusut. Ini bisa menimbulkan kecurigaan orang tua. Makanya saya gak mau lagi, walalupun dikasih. Lagi pula ayah saya seorang polisi, bisa mampus saya,” ujarnya.
Masih banyak lagi nasib perempuan muda seperti Indah dan Shinta. Setiap malam ia bertemu dengan para lelaki hidung belang yang dengan sesukanya menggerayangi tubuh mereka. Begitulah setiap malam pengorbanan yang harus ia lakukan untuk sesuap nasi, entah sampai kapan mereka bisa bertahan.
Para pekerja malam itu memang sebagian terlahir dari keluarga yang terjerat dengan kemiskinan, dan susahnya mencari pekerjaan di kota metropolitan yang kejam bagi yang tidak mempunyai ketrampilan.
Di antara mereka itu pasti ada yang pernah mencoba ekstasi. lantas kecanduan. Namun ada juga yang tidak mau mencobanya, karena tahu dampak buruk bagi tubuhnya. Namun siapa yang bisa menjamin mereka mampu bertahan dari godaan dunia malam yang memberikan dan menawarkan kesenangan dan kegembiraan.
“Kalau orang tua saya mampu membiayai kuliah, mungkin jalan hidup saya berbeda, dan saya nggak mau hidup seperti ini,” tutur Indah yang mengaku kuliah hanya sampai semester dua.
Dunia hiburan malam yang terus berdenyut di berbagai diskotek di Jakarta. Tukang ojek, sopir taksi turut kecipratan rezeki saat bubaran diskotek itu untuk mengantar para perempuan pekerja malam itu pulang ke rumah atau ke tempat kosnya.
ABG Ukraina Dipasok untuk Jadi PSK di Klub Malam Jakarta
Diposting oleh admin di 00.43 | Label: cerita dewasa, dunia malam jakarta, klub malam jakarta
Kepala Bagian Kejahatan Internasional, MCB Mabes Polri, Komisaris Besar Hasan Malik, menjelaskan bahwa tersangka kasus perdagangan manusia asal Ukraina memasukan wanita dari jalur gelap ke tempat hiburan di Jakarta.
"ND sudah menyelundupkan orang ke Indonesia sebanyak sembilan orang di tahun 2012. Kami masih kembangkan lagi sudah berapa lama dan sudah berapa banyak," ujar Hasan di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin 11 Februari 2013.
Menurut Hasan, ND (20) merupakan mantan pacar dari SM, pelaku yang ditangkap atas kasus penculikan dan kekerasan.
Setelah dilakukan pengembangan terhadap SM, diketahui jika dia bekerjasama dengan ND menyelundupkan gadis-gadis itu. Saat ini SM sedang dalam proses ekstradisi ke Ukraina.
SM dan ND biasanya mencari korban di negara pecahan seperi Uzbekistan dan Ukraina. Mereka mencari wanita berusia 18-20 tahun yang siap bekerja di klub malam sebagai pekerja seks komersial. "Kalau untuk harga jual wanita yang diselundupkan belum diketahui, nanti akan kami kembangkan," jelasnya.
Hasan menduga ada orang lain yang terlibat dalam sindikat perdagangan manusia ini. Tapi, kata dia, polisi baru menemukan dua tersangka yakni SM dan ND.
Hasan mengatakan bahwa ND akan mengukuti proses hukum di Indonesia, kemudian akan diekstradisi ke negara asalnya dan menjalani hukuman atas kasus yang membelitnya
Alasan Wanita Suka Pergi ke Klub Malam
Diposting oleh admin di 00.40 | Label: cerita dewasa, dunia malam jakarta
Pergi ke klub malam bukan hal tabu lagi dilakukan wanita di zaman modern ini. Saat ini istilah 'boys night out' juga berlaku untuk wanita. Ya, 'girls night out' sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin bagi wanita dan teman-temannya untuk berkumpul setiap minggunya.
Banyak dari wanita memilih klub malam sebagai tempat berkumpul. Selain bisa bertemu dengan teman, di klub tersebut wanita memanfaatkan untuk bersosialisasi dengan orang-orang baru dan refreshing dari pekerjaan kantor.
Lalu, apa yang menjadi alasan utama wanita pergi ke klub malam? Namun, mendekatkan diri dengan teman bukan satu-satunya bukan alasan utama wanita pergi ke tempat dugem. Seperti survei yang dilakukan situs Askmen kepada 100 wanita, mereka mengungkapkan alasannya pergi ke klub malam. Ini dia tiga alasan utamanya.
1. Untuk bertemu pria (64%): Sebanyak 64 persen wanita mengaku alasan utama mereka pergi ke klub malam adalah untuk bertemu atau flirting dengan pria.
2. Untuk mencoba pengalaman baru (21%): Alasan kedua wanita pergi clubbing adalah untuk melihat dan merasakan pengalaman baru di sebuah klub malam.
3. Untuk bersenag-senang (12%): Bertemu dengan teman, berdansa dan menghabiskan malam dengan teman-teman Anda merupakan alasan ketiga wanita pergi ke klub malam.
4. Untuk kencan (3%): Alasan lainnya wanita clubbing adalah untuk kencan dengan kekasihnya.
Alasan pertama wanita itulah yang sering disalah artikan pria. Tidak semua wanita yang pergi ke klub malam atau sekalipun mereka beralasan ingin mencari pria baru dapat disebut sebagai wanita 'murahan'.
Di zaman modern saat ini, pikiran wanita lebih terbuka. Sekedar flirting atau membuka diri terhadap pria yang baru dikenalnya bukan lagi diartikan wanita tersebut bisa langsung 'digaet' oleh pria. Nah, untuk mengetahui tipe-tipe wanita yang ada ke klub malam, ini dia.
1. Elegan
Wanita tipe ini tidak berniat pulang dengan pria lain dan tetap sadar atau tidak mabuk sampai ia tiba di rumah. Ciri-cirinya, mereka anggun, menggunakan busana sedikit seksi, namun tetap anggun. Wanita tipe elegan juga tidak minum alkohol terlalu banyak, bahkan mereka hanya minum minuman bersoda.
2. Penggoda
Wanita tipe ini, datang ke klub memang berniat untuk menarik perhatian pria. Mereka terlihat percaya diri untuk menari dan melempar senyum, bahkan memulai percakapan dengan pria.
3. Pemalu
Meski pemalu, namun tetap saja wanita suka jika ada pria yang mendekati mereka. Walau begitu mereka tidak akan berani memulai percakapan terlebih dahulu. Untuk menarik perhatian pria, wanita tipe pemalu tidak pernah lepas dari gerombolan temannya. Mereka biasanya hanya menatap satu pria dan sangat berharap pria tersebut mendatanginya
Usai Diambil Nikmat Lalu Dipecat
Rabu, 30 Januari 2013 Diposting oleh admin di 20.08 | Label: cerita dewasa
SUNGGUH kasihan nasib Indri, 20, buruh garmen dari Semarang ini. Sebagai tenaga kerja wanita, akhirnya dia malah menjadi korban “tenaga kuda” atasannya. Paling tragis, setelah Indri kenyang diambil nikmat, bahkan sampai hamil 7 bulan, enak saja bos Hadi, 47, memecatnya.
Di mana saja perempuan cantik memang banyak godaan. Maka meski kecantikan itu sendiri sebuah karunia Illahi, jika tak mampu menjaganya, akan menjadi petaka bagi pemiliknya. Perempuan jelek bisa jalan bebas tanpa godaan, perempuan cantik di mana-mana ketemu sambang dalan (gangguan). Mending jika sekedar disuat-suit, banyak pula yang dicolak-colek bahkan sampai usaha perkosaan.
Gadis Indri termasuk wanita yang celaka akibat kecantikannya. Awalnya sih dia sangat bergembira, karena kecantikannya pula dia bisa diterima dengan mudah di perusahaan garmen. Eh nggak tahunya, ada udang di balik batu. Juragan Hadi dengan cepat menerimanya bekerja, karena dia ada target syahwat di belakangnya. Maksudnya, selain sebagai tenaga kerja, Indri hendak pula dijadikan pelampiasan “tenaga kuda”.
Indri memang gadis yatim piatu. Dalam usia masih anak-anak dia harus ditinggal mati kedua orangtuanya. Karenanya dia kemudian diasuh oleh kakaknya di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dia disekolahkan dari SD hingga tamat SMA. Sayangnya, karena modal cekak sang kakak tak mampu membiayai hingga perguruan tinggi. Jika sudah begini, mana lagi tujuannya jika tak masuk Fakultas Pabrik di kotanya.
Kebetulan di dekat rumahnya terdapat pabrik garmen. Iseng-iseng Indri melamar ke sana. Rupanya Hadi selaku juragan sangat tertarik pada penampilan gadis itu, sehingga tanpa melalui tes bertele-tele dia langsung diterima bekerja. Pekerjannya tiap hari hanya jahit menjahit, melayani pesanan bikin baju dan jaket berbagai instansi dan lembaga.
Sesuai dengan target semula, Hadi diam-diam mencoba mendekati Indri. Tanpa tujuan yang jelas dia suka dipanggil khusus ke ruang kerjanya. Eh tak tahunya, di sana Indri dirayu-rayu agar mau disetubuhi. Katanya, nanti dia akan diambil sebagai istri definitip dengan segala fasilitasnya. “Sekali kamu kunikahi, kamu takkan kusia-siakan. Aku kan bukan bupati Aceng Fikri….,” begitu kira-kira kiat Hadi meyakinkan Indri.
Sekali dua kali Indri masih menolak. Tapi lantaran juragan Hadi terus gencar merayu, akhirnya gadis itu bertekuk lutut dan berbuka paha juga. Inilah kali pertama juragan garmen itu “mbelah duren” jatohan, yang harum bahunya dan tebel-tebel dagingnya. Sampai capek Indri diklamuti bak duren sungguhan.
Sejak itu Indri sudah menjadi “menu” rutin juragan Hadi. Entah berapa kali dia digauli, tahu-tahu buruh garmen itu hamil 7 bulan. Seperti lazimnya korban penjahat kelamin, Indri juga minta pertanggungan jawab Hadi. Sayangnya bos garmen itu ingkar janji. Bukannya membawa gadis itu ke KUA dan didaftarkan sebagai calon mempelai, bahkan diberi surat pemecatan dengan alasan bisa merusak citra perusahaan.
Atas kesewenang-wenangan ini keluarga Indri masih mencoba jalan damai. Jika tetap mentok, Hadi akan dilaporkan ke DPRD Semarang dan Polres. Namun katika dikonfirmasi juragan itu sendiri selaku pihak terkait, dia membantah akan laporan Indri. Katanya, sama sekali dia tak menelantarkan bekas buruhnya. “Dia sudah saya kawin siri, dan selalu saya bantu keuangannya kok,” kilah Hadi.
Bantu keuangan atau goyangan, hayo….!!!
Kehidupan Malam Jalan Tubagus Angke
Rabu, 16 Januari 2013 Diposting oleh admin di 20.42 | Label: cerita dewasa, dunia malam jakartaJalan Tubagus Angke, tepat di sepanjang Jembatan Genit, para pekerja seks komersial mulai menjalankan aktivitasnya. Mereka mulai beraksi selepas adzan maghrib. Tenda-tenda berukuran kecil di pinggiran kali yang merupakan tempat transaksi seksual tetap berdiri dengan kokoh menemani puluhan kupu-kupu malam yang sebagian besar merupakan wanita paruh baya. Dandan para wanita paruh baya itu rada menor. Mereka agresif menjajakan diri ke lelaki hidung belang. Betah menunggu tamu hingga dini hari. Apalagi di sepanjang jalan tubagus angke berjejer tempat hiburan malam yang setiap malam selalu ramai pengunjungnya,mulai dari cafe dangdut , karaoke hingga diskotik yang setiap malam buka hingga hari menjelang pagi,dengan tarif murah mereka menawarkan diri kepada setiap pengendara yang melintas,masing masing mempromosikan diri tentang servis yang di berikan kepada calon pelangganya. biasanya kalau sampai dini hari mereka tidak mendapat pelanggan mereka akan masuk ke tempat tempat hiburan yang ada di sekitar situ untuk mencari pelanggan di dalam tempat hiburan tersebut,karena biasanya pria yang masuk ke tempat hiburan bisa di pastikan mereka menenggak minuman keras hingga mabuk. umumnya para lelaki yang sudah mabuk kalau di dekati wanita akan mudah di rayu untuk di ajak kencan. Dan pekerjaan itu dilakukan saban hari. Aktifitas terlarang ini baru akan sepi jika Sudin Sosial ataupun petugas trantib dari pemeritah DKI Jakarta datang ke sana melakukan razia. Tapi sebelum petugas datang, para wanita belia itu sudah berhamburan.
Arsip Blog
-
▼
2014
(15)
- ► 10/26 - 11/02 (5)
- ► 08/17 - 08/24 (1)
- ► 07/13 - 07/20 (2)
- ► 07/06 - 07/13 (4)
- ► 06/15 - 06/22 (1)
- ► 01/19 - 01/26 (1)
-
►
2013
(38)
- ► 08/18 - 08/25 (1)
- ► 07/28 - 08/04 (1)
- ► 06/16 - 06/23 (2)
- ► 06/09 - 06/16 (3)
- ► 06/02 - 06/09 (6)
- ► 05/26 - 06/02 (2)
- ► 05/19 - 05/26 (3)
- ► 03/10 - 03/17 (1)
- ► 03/03 - 03/10 (3)
- ► 02/24 - 03/03 (3)
- ► 02/17 - 02/24 (4)
- ► 02/10 - 02/17 (4)
- ► 01/27 - 02/03 (4)
- ► 01/13 - 01/20 (1)
-
►
2012
(44)
- ► 12/23 - 12/30 (1)
- ► 11/18 - 11/25 (2)
- ► 11/11 - 11/18 (3)
- ► 10/21 - 10/28 (2)
- ► 10/14 - 10/21 (5)
- ► 08/26 - 09/02 (1)
- ► 07/29 - 08/05 (2)
- ► 06/03 - 06/10 (2)
- ► 04/15 - 04/22 (6)
- ► 02/19 - 02/26 (4)
- ► 01/29 - 02/05 (6)
- ► 01/15 - 01/22 (3)
- ► 01/08 - 01/15 (7)
-
►
2011
(138)
- ► 10/30 - 11/06 (2)
- ► 10/23 - 10/30 (7)
- ► 10/16 - 10/23 (7)
- ► 10/09 - 10/16 (5)
- ► 09/11 - 09/18 (4)
- ► 09/04 - 09/11 (6)
- ► 08/28 - 09/04 (8)
- ► 08/07 - 08/14 (1)
- ► 07/24 - 07/31 (6)
- ► 07/10 - 07/17 (5)
- ► 06/26 - 07/03 (2)
- ► 06/19 - 06/26 (4)
- ► 06/12 - 06/19 (3)
- ► 06/05 - 06/12 (3)
- ► 05/22 - 05/29 (2)
- ► 05/15 - 05/22 (4)
- ► 05/08 - 05/15 (4)
- ► 05/01 - 05/08 (2)
- ► 04/24 - 05/01 (4)
- ► 04/17 - 04/24 (3)
- ► 04/10 - 04/17 (4)
- ► 04/03 - 04/10 (5)
- ► 03/27 - 04/03 (5)
- ► 03/20 - 03/27 (2)
- ► 03/13 - 03/20 (3)
- ► 03/06 - 03/13 (1)
- ► 02/27 - 03/06 (9)
- ► 02/20 - 02/27 (1)
- ► 02/13 - 02/20 (11)
- ► 02/06 - 02/13 (2)
- ► 01/30 - 02/06 (2)
- ► 01/23 - 01/30 (5)
- ► 01/16 - 01/23 (2)
- ► 01/09 - 01/16 (4)
-
►
2010
(252)
- ► 12/26 - 01/02 (6)
- ► 12/19 - 12/26 (4)
- ► 12/12 - 12/19 (8)
- ► 12/05 - 12/12 (11)
- ► 11/28 - 12/05 (3)
- ► 11/21 - 11/28 (1)
- ► 11/14 - 11/21 (3)
- ► 11/07 - 11/14 (1)
- ► 10/31 - 11/07 (1)
- ► 10/17 - 10/24 (8)
- ► 10/10 - 10/17 (2)
- ► 09/12 - 09/19 (1)
- ► 09/05 - 09/12 (1)
- ► 08/29 - 09/05 (1)
- ► 08/22 - 08/29 (4)
- ► 08/15 - 08/22 (4)
- ► 08/08 - 08/15 (4)
- ► 08/01 - 08/08 (2)
- ► 06/27 - 07/04 (26)
- ► 06/20 - 06/27 (25)
- ► 06/13 - 06/20 (10)
- ► 06/06 - 06/13 (5)
- ► 05/30 - 06/06 (19)
- ► 05/23 - 05/30 (2)
- ► 05/16 - 05/23 (10)
- ► 05/09 - 05/16 (4)
- ► 05/02 - 05/09 (6)
- ► 04/25 - 05/02 (7)
- ► 04/18 - 04/25 (6)
- ► 04/11 - 04/18 (8)
- ► 04/04 - 04/11 (10)
- ► 03/28 - 04/04 (8)
- ► 03/21 - 03/28 (14)
- ► 03/14 - 03/21 (3)
- ► 03/07 - 03/14 (4)
- ► 02/28 - 03/07 (6)
- ► 02/21 - 02/28 (5)
- ► 01/31 - 02/07 (1)
- ► 01/17 - 01/24 (3)
- ► 01/10 - 01/17 (5)
-
►
2009
(40)
- ► 12/20 - 12/27 (2)
- ► 12/13 - 12/20 (1)
- ► 11/29 - 12/06 (2)
- ► 11/22 - 11/29 (6)
- ► 11/15 - 11/22 (9)
- ► 11/08 - 11/15 (8)
- ► 11/01 - 11/08 (2)
- ► 04/12 - 04/19 (1)
- ► 04/05 - 04/12 (1)
- ► 03/08 - 03/15 (3)
- ► 03/01 - 03/08 (1)
- ► 02/08 - 02/15 (3)
- ► 02/01 - 02/08 (1)
-
►
2008
(25)
- ► 08/10 - 08/17 (3)
- ► 07/13 - 07/20 (8)
- ► 07/06 - 07/13 (6)
- ► 06/29 - 07/06 (5)
- ► 06/22 - 06/29 (3)
